Hari ini matahari negan bercahaya. Awan mengumpal di angkasa. Pertanda mendung akan tiba dan menelangsa ke punjuru sejauh tatapan mata. Matahari hilang di tawan awan. Mereka berkumpul menjadi raksasa hitam pekat di atas sana. Menakutkan. Seolah mereka sedang murka. Kenapa murka? Hanya angin yang tau, angin yang terbang mengirim pesan bahwa air bah segera turun. Berlindung titahnya. Gemuruh itu berbunyi pelan. Cipratan cahaya muncul seketika di celah gumpalan hitam raksasa. Sekarang cripratan cahaya itu semakin sering. sungguh menakutkan.
Halilintar menghentakkan bumi. Suaranya besar
sekali. Berkali-kali Mengejutkan jantung, untuk semakin keras dan cepat memompa
darah ke kepala. Semua orang berlindung. Di rumah, di gubuk dan di depan
toko-toko orang.
Butiran air turun setetes. Merelakan jatuh terhempar
ke bumi lalu hilang. Hanya bekas basah dimana-mana. Di bajuku, rambut, di atas
tanah di atas daun. Dimana-mana dan kemana-mana. Seperseratus detik. Tak
terhitung jumlahnya. Mereka semakin banyak dan pandangan kian kabur sejarak 20
meter. Hujan dan halilintar telah menguasai bumi.
Akupun di penjarakan hujan di depan restoran desa.
Beruntung sekali aku. Aku bisa masuk ke dalam untuk memesan makanan dan kopi, setelah
itu meneguk kopi seteguk demi seteguk hingga habis sembari menunggu hujan reda.
Aku asing disini, asing dalam segala hal. Tak ada yang ku kenal. Dan tak ada
juga yang mengenalku. Tak ku tau alam sekitar sini dan alampun tak mau tau
tentangku.
“ini pesananmu kawan”
“Terima kasih”
pemilik resto meletakkan secangkir kopi di depan.
Suaranya tidak terlalu kedengaran karena hujan sangat riuh hingga kebesingan
tembus kemana-mana. Juga ke dalam resto.
kopi sungguh kawan sepiku. Perbincangan sederhana lansung
terjadi antara aku dan pemilik resto. Perbincangan yang membosankan. Sebosan
menunggu hujan reda.
Perbincangan kami hanya seputar. Siapa nama ku? Dari
mana asalku? Dan blablabla. Bukan ingin sombong dan ingin mengacuhkan pemilik
resto. Tapi inilah selalu pertanyaan dari setiap pemilik resto dimanapun aku
singgah. Sungguh membosankan mendengar cuplikan demi cuplikan tertanyaan yang
serupa walau dari mulut yang berbeda.
Syukurlah. Pemilik resto dapat pesanan dan tidak
lagi mengangguku yang Cuma ingin bersantai dan menikmati secangkir kopi. Kopi yang
nikmat di tengah-tengah suasana hujan. Alangkah indahnya.
Tiga puluh menit berlalu. Hujan masih meraja lela di
luar sana. Perasaan bosan membuat mataku melirik pelan seisi resto. Suasana
resto sangat nyaman. Gaya klasik. Ibarat tempat mangkalnya para koboy pemabuk.
Dekat di sebelah saya. Ada dua orang yang sedang berbincang, sesekali tertawa
ringan. Asap rokoknya mengumpal, melukiskan kehidupan yang nyaman. Mereka sibuk
sendiri tanpa peduli dengan orang-orang di samping, di belakang dan seisi
resto. Dasar para lelaki udik.
Di dekat jendela berjejer meja dan kursi yang
berhadapan dan saling membelakangi satu sama lain. Sekitar lima atau eman
pasang meja. Indahnya karena persis dekat jendela. Setiap pengunjung bisa
melihat keluar tanpa di halangi oleh apapun. Jendela yang besar dan bersih.
Ada sekitar tiga orang di sana. Dua orang duduk di
meja paling depan dekat dengan pintu keluar. saling berhadapan. Satu lagi
wanita muda yang duduk di tengah deretan kursi. Dia sendiri. Penuh khitmat.
Mengotak katik makanan pesanannya. Entah apa yang dilalukannya. Dengan
konsentrasi penuh dia ingin menyelesaikan kerjaannya.
Seksama ku perhatikan. Itu bangunan rumah dari kue.
Roti semacam biscuit. Semua utuh, sempurna seperti sebuah rumah. Tapi kenapa
gadis itu masih mengotak atiknya. Pasti ada yang terlewatkan oleh ku.
Gadis itu masih memengang satu kue yang tersisa. Di
coba, gagal. Di coba lagi dan gagal lagi. Kue yang di maksud untuk penutup. Ya.
Itu untuk pintu. Tepat di depanku ada setumpuk lidi di dalam gelas yang digunakan
untuk pembersih sela-sela gigi. Seperti mendapatkan petuah dari sang hujan. Ide
itu muncul seketika. Criiiing.
Aku meraih satu batang lidi. Berdiri dan melangkah
pelan mendekati gadis malang itu. Ku tawarkan solusi atas kebingungannya. Gadis
itu terheran dan menatapku terkejut. Mulutnya bisu, sulit mengeluarkan sepatah
kata pun. Matanya seperti mengidinkan ku untuk membantunya.
Lidi itu ku tusuk di sela-sela rumah kue. Dan
mengabil kue sisa tersebut di tangan gadis itu dan ku tempelkan di lubang
kosong. Dan sempurna. Pintunya berfungsi dengan baik.
Gadis itu tersentak, setengah tak percaya apa yang
kulakukan. Seketika senyumnya merekah. Duhai, cantik sekali senyuman itu. Luar
biasa. Sangat indah bak pelangi yang bercahaya. Aku terpesona, dia cantik
sekali.
Aku tetap orang asing bagi siapapun disini, juga
untuk gadis cantik ini.
“sudah selesai nona” dengan santun aku tersenyum.
Dan mencoba berjalan balik ke tempat semula.
“terima kasih” tegurannya menghentikan langkahku.
Aku menoleh.
“aku luci” dia berdiri dan mengulurkan tangan. Dia
tampak sangat percaya diri. Aku membalas salamnya dengan sebuah salam
kehangatan di tengah hujan yang dingin. “aku hamdan, kau bisa memangilku dan”.
Luci memintaku untuk duduk di mejanya sebagai hadiah
dari ide cemerlangku. luci bercerita bahwa selama seminggu terakhir dia selalu
ke resto ini untuk menyelesaikan rumah kuenya. Namun selalu gagal. Dia malu
karena tidak pernah berfikir untuk mengunakan lidi sebagai pengerak pintu rumah
kuenya.
Benar-benar gadis unik lirihku dalam hati. Tidak mau
menyerah walau hanya untuk persoalan sepele itu.
Perbincangan hangat selesai saat hujan berhenti. Dia
berdiri dan buru-buru untuk pulang. Kami sepakat besok untuk kesini lagi dan
bercerita tentang satu sama lain. Sialnya aku sangat senang dengan ajakan itu. Aku
tidak sadar bahwa baru saja jatuh hati pada gadis periang ini.
Kapan terakhir aku jatuh cinta. aku tidak mau
mengingatnya. Karena aku pernah patah hati karena cinta. ya patah hati dengan
lunaku, wanita yang masih menguasai batinku, wanita idamanku. Tentang luci tapi
ini beda. Jantungku tiba-tiba berdenyut kencang. Tak mau berhenti ketika gadis
itu berjalan menuju pintu keluar dan hilang.
Astaga, aku jatuh cinta lagi. Ini tak boleh terjadi.
Aku tidak mau jejak perjalanan ku terhenti di kota ini. Aku adalah pengembara
sekarang. Pengembara ke sembarangan arah.Tapi di satu sisi dalam diriku
mengingatkan bahwa aku adalah lelaki. Sebagai lelaki tidak boleh ada yang
mengingkari janji. Aku harus bertemu dengannya besok untuk terakhir kali.
Mozaik 2 Pertemuan pertama Serial Novel Gadis Pelupa
Mozaik 2 Pertemuan pertama Serial Novel Gadis Pelupa

0 comments:
Post a Comment