Deru ombak pagi di tengah samudra yang sepi, riuh sedikit gemuruh. Dingin karena sepoi-sepoi angin menerpa wajah. Tidak ada embun. Tidak ada suara burung menyanyi merdu. Goyangan badan kapal layar sejup sayu. Pelan-pelan. Bintang gemintang masih telihat di cakrawala galaksi. Bintang fajar tidak lama lagi akan menghilang pertanda malam akan tergantikan dengan siang. Subuh pun menghilang.
Terdengar sedikit langkah pelan di belakangku. Aku tau persis langkah siapa. Itu langkah istriku yang baru pulih dari sembilu hatinya. Perlahan langkah itu kian mendekat.
Luci selalu menangis saat terbangun. Semenjak aku di pertemukan oleh takdir dengan luci. Hidup luci berubah menjadi cengeng untuk dua jam setelah itu luci berubah jadi wanita paling berbahagia. Sungguh kisah kami bahagia. Tidak ada duka ataupun nestapa. Tapi kenapa luci selalu menangis ? inilah kisah uniknya.
Luci tumbuh sebagai gadis yang sangat tegar, cerdas dan periang. Tidak ada wajah sedih di setiap harinya. Gadis 17 tahun yang penyayang dan penuh ambisi. Tidak ada kisah cinta baginya. Cinta ? cukup cinta keluarga.
Sama seperti gadis lainnya yang hidup di lembah. Setiap hari mereka sibuk merawat pohon nanasnya di kebun. Semenjak luci menamat sekolah tingkat akhir. Luci memutuskan untuk membantu orang tua di kebun. Tiap hari panen. tidak ada musim khusus untuk panen besar.
Luci benar-benar gadis yang sangat beruntung punya keluarga yang sangat mencintainya. Namun setelah tragedy itu datang kedua orang tua luci mulai berpura-pura bahwa keadaan selalu berjalan normal.
Kejadian yang menurut semua orang hanya kecelakaan kecil telah merengut ingatan jaka panjang luci. Entah apa namanya penyakit buduk sialan itu. Dokter pernah memberi tahuku nama penyakit langka itu. Tapi apa peduliku? Hanya buang-buang waktu mengingatnya.
Sore itu, luci dengan ayahnya pulang dari kebun. Ayah luci mengendarai mobil pick up yang sering di gunakan untuk mengantarkan buah nanas yang penen ke kota. Luci, ayah dan Mobil pick up bernasib naas. Di tengah jalan tanpa sengaja. Tiba-tiba. Entah dari mana. Seekor lembu melintas tidak karuan. Ayah luci terkejut. Seperseribu detikberlalu setir mobil di putar sembarangan untuk menghindar. Tanpa sengaja. Tiba-tiba. Entah kenapa pohon itu berdiri kokoh tidak mau menghidar.
Dokter tersenyum kecil, ibu luci yang semenjak tadi meneteskan air mata sedikit tersenyum. Menelan ludah melihat Ayah luci telah sadar dari pinsang. Tidak lama, hanya dua jam ayah luci terbaring kaku tak sadarkan diri.
“luci mana?” dia memaksakan mulutnya untuk berbicara. Samar-samar hampir tidak terdengar. “bapak jangan khawatir, luci baik-baik saja. Bapak jangan banyak bertanya dulu. Bapak butuh istirahat yang cukup” potong dokter.
Seminggu berlalu. Luci masih tidak sadarkan diri. Ayahnya kini sudah bisa bergerak. Berjalan malah. Ibunya selalu menjaga luci dimana luci terbaring kaku. Dia berharap cemas, kadang-kadang berbicara dengan luci walau luci tidak pernah mendengarnya. Memandang luci lamat-lamat. Hanya pekat yang terlihat di wajah anggun luci yang kian hari kian jelita.
Kabar terakhir yang mereka terima dari dokter. Secara fisik luci baik-baik saja. Cuma mereka juga terheran-heran di buat oleh luci. Belum ada alat canggih untuk meneteksi kenapa luci belum sadarkan diri juga. Maklum. rumah sakit di lembah masih jauh dari kata mewah.
Sebulan telah berlalu. Luci masih seperti 3 minggu terakhir. Ayah luci telah sembuh total. Kadang ibu dan .ayah bergantian ke rumah sakit untuk menunggu luci kembali. Kemanakah luci pergi. Ke alam imajinasi mana dia sekarang. Apakah dia sedang di surga bermain riang dengan malaikat dan engan untuk kembali. Entahlah. Berharap cemas.
Tiba-tiba air mata jatuh perlahan di ujung mata luci. Dia marah, dia sadar tidak bisa bergerak. Bulutnya bisu. Menatap ruangan serba putih di langit-langit ruangan. Mengingat-ngingat. Lalu lupa. Matanya mencari sesuatu. Sesosok. Dia menemukan seseorang di sebelah kanan ranjangnya. Tertidur disana. Tangan luci berat di angkat pelan-pelan untuk memegang rambut ibunya yang masih tertidur. Menyedihkan. Tangan luci sedikitpun tidak bisa bergerak.
Mulutnya tertutup rapat. Tidak bisa di buka. Di gerakkan. Benar-benar upaya yang sia-sia. Ingin memanggil. Hanya kelu dan isak tangis. Ingin luci bertanya dimanakah dia sekarang ?, kenapa dia ada disini ? Sejak kapan ? dan di ikuti puluhan pertanyaan lainnya. Tapi tetap saja dia mati kutu.
Entah berapa lama luci bersitegang dengan kekakuan. Akhirnya ibunya terbangun dan mendapati tangannya sudah basah. Dari mana semua air ini. Apakah ada gelas yang tumpah. Matanya mencari sedikit panik. Bukan, basah itu oleh air mata luci. Air mata lucilah yang telah membangunkan ibunya.
Ibunya spontan menangis haru. Lucinya telah kembali dari mimpi yang tidak pernah berakhir. Memeluknya, menciumi pipinya, dan terisak-isak lama.
“kau telah kembali anakku, kau telah kembali” kebahagiaan itu indah sekali. Ibunya seperti kembali bertenaga berlari ke lorong-lorong. Mencari sesosok. Mencari dokter untuk memberikan kabar gembira yang selama ini mereka tunggu-tunggu. Tuhan mendengarkan doa ibunya. Harapan yang tidak sia-sia.
Mozaik 1 Gadi Pelupa Serial Novel Gadis Pelupa

0 comments:
Post a Comment