Karena Kota Metropolitan


Karena Kota Metropolitan

Karena Kota Metropolitan


            Nafas ku naik turun akibat kelelahan yang ku lalui. Aku tidak tau dimana sekarang ku berada yang ku tau sekarang hanya di dekat sungai kecil yang airnya mengalir deras di celah-celah batu besar hitam airnya dingin bagaikan es di daerah kutup. “ kini untuk sementara waktu ku aman di sini” lirihku pelan. Aku melihat kesekelingku dengan penuh kecurigaan akan preman-preman berseragam di balik semak-semak.

Dulu aku sangat takut akan keteduhan hutan walaupun di kala sinar mentari terang. Malam ini Gelapnya hutan kini menjadi kekuataan untuk melarikan diri dari kejaran, Hanya sinar bulan sabit yang menerangi ku di bawah pohon jati ini.  

Baju lusuh seragam yang ku kenakan membuat identitas ku mudah di kenal orang, baju biru bernomor 50 di bagian dada sebelah kiri ini adalah baju tahanan yang setiap hari ku pakai di lapas di tempat ku di tendang oleh hakim kerena tuduhan mengedarkan barang haram. “ aku di perbudak oleh alam” sambilku menangis di depan hakim tempoe dulu disaat persidangan terakhir.

Pengadilan memvonisku 10 tahun penjara karena melanggar undang-undang Negara yang entah dari pasal apa. Aku tidak mengerti hukum, aku Cuma anak kampung yang ingin mencari jati diri di kota metropolitan, di kota yang kata orang-orang desaku bisa menghasilkan banyak uang. Tapi sekarang aku di seret tidak berdaya oleh hukum karangan anak manusia.

            “aku di fitnah, aku tidak tau barang itu dari mana pak hakim. Aku tidak bersalah, dan aku berani bersumpah pak hakim yang terhormat bahwa itu bukan barangku” belaku di depan hakim, Cuma itu yang bisa ku katakan untuk mencari pembelaan. Dan penderitaanku tidak sampai Cuma disitu. Terbujur kaku di lantai tidak beralas, kedinginan malam tanpa ada sehelai kainpun yang menyelimuti pembaringan tidurku di kamar 4x4 jeruji besi.

Pengeroyokan dari mafia bajingan penjarapun kerapku alami. Di tendang, di ikat, di sodomi, bahkan di telanjangi di kamar mandi mandi kerap terjadi. Tanpa seorangpun yang peduli, para awak sipir munafikpun Cuma bisa tersenyum melihatku di jilati oleh kaum yang suka pantat lelaki. Kenapa dengan diriku, mengapa aku di perlakukan begini, Sering ku menangis dan meronta sendiri di ketika ku mandi. Sering ku mencoba untuk mengakhiri perjalanan hidupku yang pahit ini.

Tapi ku masih bertahan karena ku takut akan murka tuhan di akhirat nanti. Ketenanganku Cuma sesaat, di kala malam tiba, di balik jendela jeruji besi ku melihat indahnya bintang bertaburan di jagat semesta sana. Aku ingin seperti bintang yang tenang dan indah. Mereka bebas dan tidak seorangpun bisa menyentuhnya bahkan diriku hanya bisa menjamahnya dengan hayalan semata. Sering ku terbang dan berdiri di sebelah sang bintang sambil bercerita tentang anehnya kehidupan di muka bumi.

Sesekali aku menanyakan kepadanya bagaimana caranya untuk menjadi seperti dirinya menjadi seperti bintang yang bercahaya di bawah relung kegelapan dengan sejuta kedamaian. Namun tidak ada jawaban. Sang bintang tetap diam dan terus Dalam diam.

            Aku sudah gila pikirku. Watakku telah di penuhi imajinasi masa kanak-kanak ku dulu, bermain bersama alam, berbicara dengan pohon sampai dengan bintang. Berbicara sudah mulai gagap-gagapan. Entahlah, aku butuh kawan, dan bintanglah yang setia menjumpaiku di tengah gelap ku yang ronta.

            Di malam terakhirku di dalam kamar jeruji besi. Sang bintang seolah memberikan ku jawaban. Sang bintang ingin bertemu dengan ku di luar sana, dia ingin membebaskanku dan menjadikan ku bintang di bumi. Lalu ku berdiri dan berfikir untuk meloloskan diri dari lapas.

            Seminggu lepas telah berlalu, anjing pelacak terus saja mencari keberadaanku. Aku telah berubah menjadi manusia yang murka, bringas yang selalu was-was akan berbagai serangan, bukan Cuma manusia yang buas tapi binatang buaspun ku hindari kadang harus ku ladeni untuk mempertahan harapan akan kedamaian.

Sekarang hutanlah rumahku untuk sementara waktu. Sering ku berjumpa dengan bintang di atas pohon, di celah daun pohon yang rindang aku di intip olehnya sambil menanyakan apakah aku masih sanggup bertahan. Aku Cuma bisa tersenyum seperti memberi jawaban bahwa aku baik-baik saja disini.

            Beratnya perjalanan ini menuju kebebasan yang alami yang terus saja ku impikan sampai suatu hari nanti. Aku sendiri sekarang, ibu dan ayah telah lama tiada. Saudara kandung dan semua sanak saudara tidak mau mempudikan aku lagi. Bahkan mencerca, mencaci dengan ungkapan yang begitu menyakitkan. Sungguh aku benar sendiri sekarang yang berkawankan bintang.

Ibu yang ku cintaipun sering datang Dalam mimpi ku, dia memintaku untuk terus berusaha dan bersabar yang kata-kata lembutnya menjadi penenang dan tenaga tambahan untuk terus berjuang. Letih badan ini, Cuma tulang besar yang di selimuti kulit yang dulunya putih berubah hitam dan kotor. “ jera ! pergilah kau !!! aku masih ingin berjuang untuk kebebasan” teriakku memecahkan kesunyian malam yang membuat para penghuni hutan terjaga. Hanya berfikir apa peduli akan mereka karena mereka juga tidak pernah peduli kepadaku.

             Tersentak dan terkejut, ular jenis kobra itu mengigit tanganku. Aku menendanginya hingga dia berbunyi “ sssssttttttttttttstss”. Pikiranku pusing mataku mulai kabur dan semakin hilang, jeritku “ sakit!!” badanku lemas dan sekarang semua telah gelap.


Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment